Tekanan Sosial Memiliki Pasangan dan Problema Menjadi “Single” di Indonesia
Dalam budaya tradisional, pernikahan merupakan tujuan utama dalam hidup seseorang. Terutama di Indonesia, mendapatkan pasangan dilihat sebagai salah satu kriteria dalam mencapai kesuksesan hidup. Niat orang-orang yang memilih untuk tetap lajang, atau mereka yang belum menemukan pasangan, selalu ditemui dengan kata-kata dorongan untuk “tetap semangat” atau “jangan putus asa!”. Tidak perlu melihat keluar, tekanan paling besar untuk mendapatkan pasangan kerap datang dari keluarga sendiri. Menariknya, di sisi lain semakin banyak orang yang menggunakan waktu lajang untuk merintis karier, juga sebagai kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Hari ini, kami berbincang dengan beberapa figur, mulai dari organisasi kesehatan mental, hingga pre-marital counselor tentang tekanan sosial dalam mencari pasangan, stigma-stigma yang kerap dihadapi ketika masih “single”, hingga menggunakan waktu lajang sebagai kesempatan untuk mencari jati diri.
Untuk banyak orang, mendapatkan pasangan atau menikah masih merupakan cita-cita terbesar dalam hidup. Bagaimana Anda menanggapi pemikiran ini?
Menurut saya, cita-cita untuk menikah adalah sebuah mindset yang dibentuk oleh budaya sekitar kita, terutama untuk wanita. Untuk banyak wanita, mereka lebih sering diajarkan oleh orang-orang disekitarnya untuk menikah dengan seorang lelaki yang mapan dan berkepenuhan supaya bisa mempunyai masa depan yang baik. Walaupun dengan berjalannya waktu, mindset itu mulai berubah dan wanita juga dianjurkan untuk bekerja, berkarir dan mempunyai prestasi sendiri, masih banyak yang mempunyai pemikiran bahwa karir mereka itu hanya sementara sampai saatnya mereka menikah.
Sebaliknya, semakin banyak pula masyarakat yang memilih untuk tetap single lebih lama untuk fokus ke aspek hidup lain seperti karier atau self-growth. Secara pribadi, bagaimana Anda melihat situasi ini?
Saya melihat self-growth sebagai hal yang berlanjut selama hidup kita. Menurut saya, kita sebagai manusia harus terus belajar dan memperbaiki diri kita selamanya, karena self-growth tidak kenal umur. Dan menurut saya, momen di hidup kita di mana self-growth itu paling penting adalah sebelum kita menikah. Kenapa? Karena menikah adalah sebuah komitmen yang besar, bukan hanya ke pasangan Anda tapi juga ke keluarga Anda nantinya. Jadi sebenarnya mau kita single ataupun mempunyai pasangan, kita masih tetap bisa fokus kepada self-growth kita.
Melihat kerabat dalam satu kelompok pertemanan yang satu-persatu mulai membangun keluarga memberikan tekanan bagi kita yang belum menemukan pasangan atau tidak menginginkan hal tersebut. Bagaimana kita dapat merasa secure dalam fase hidup ini tanpa harus memenuhi ekspektasi eksternal?
Kita harus selalu ingat bahwa semua orang mempunyai timeline mereka sendiri. Ada orang yang mungkin menikah muda atau ada orang yang mungkin menikah nya lebih tua atau mungkin ada yang memilih untuk tidak menikah sama sekali, dan menurut saya itu semua tergantung timeline kita masing-masing. Sebenarnya tidak ada waktu spesifik di mana hal-hal seperti menikah ataupun lulus sekolah atau sukses di karir harus terjadi. Rasa tekanan yang ada tentang menikah di umur tertentu itu semuanya karena budaya dan orang-orang sekeliling kita. Saat kita dapat menerima bahwa semua orang mempunyai jalan mereka masing-masing, tekanan-tekanan seperti itu tidak akan mengganggu kita lagi.
Masyarakat Indonesia, terutama perempuan, mempunyai tekanan yang lebih banyak untuk mencari pasangan. Jika belum menikah di umur yang “pantas”, dapat dipandang rendah oleh keluarga, rekan ataupun masyarakat. Apa opini Anda terhadap hal tersebut? Apakah statement tersebut masih relevan dalam era modern ini?
Statement ini masih sangat relevan dalam era modern ini, karena walaupun sudah banyak millennials dan generation Z yang lebih terbuka dengan mindset bahwa menjadi wanita itu lebih dari sekedar menjadi seorang istri dan ibu, masih banyak orang-orang yang masih mempunyai mindset seperti itu. Menurut saya, tekanan seperti itu pasti selalu datang di dunia patriarki ini, dan butuh diingat, apalagi kepada wanita bahwa, entah Anda ingin menikah atau tidak adalah pilihan Anda. Jika Anda memilih untuk fokus kepada karir, maka fokuslah kepada karir Anda. Jika Anda memilih untuk menikah, maka menikahlah.
Realitanya, tidak ada peraturan dan jalan yang pasti terkait kapan saatnya menikah dan kapan saatnya menjadi ibu, itu semua adalah konsep yang diciptakan masyarakat untuk meletakkan wanita ke dalam sebuah kotak. Saat Anda menyadari bahwa ini adalah bentuk hasil dari patriarki, Anda dapat mengabaikannya dan merangkul kekuatan yang datang dari menjadi seorang wanita.
Dewasa ini, pelajaran-pelajaran penting apa yang telah Anda temukan selama menjalani masa sendiri?
Saya belajar untuk menjadi sahabat bagi diri saya sendiri, dan untuk menjadi lebih mandiri. Di saat saya suka bersendiri dan merasa bahwa itu cukup, saya tidak lagi berekspektasi kepada orang lain untuk memenuhi saya. Membuat saya senang bukanlah tanggung jawab orang lain, itu adalah tanggung jawab diri saya sendiri. Terkadang, kita harus terpaksa untuk bersendiri untuk menyadari hal itu.
Akan tetapi, saya mempelajari itu semua sebenarnya dengan mempunyai hubungan LDR. Dengan adanya jarak antara saya dan pasangan saya, saya perlahan-lahan mempelajari itu semua. Setelah itu, ekspektasi saya terhadap pasangan saya jadi mengurang dan kita bisa lebih menikmati waktu kita bersama karena itu.
