Workplace Burnout: Tanda & Cara Mencegahnya
L’ORÉAL INDONESIA X UBAH STIGMA
Untuk menjadi Generation Mental Health, kita harus memprioritaskan kesehatan mental dalam semua aspek di hidup. Hal ini termasuk mencari keseimbangan antara pekerjaan, bersosialisasi dan beristirahat. Oleh karena itu, kita harus mengerti cara mengidentifikasi tanda-tanda kita mulai mengalami burnout.
Apa itu Burnout?
Burnout dikenal sebagai fenomena yang terjadi pada seseorang yang sudah bekerja. Mungkin ada yang beranggapan burnout itu hanya sekedar kondisi seseorang yang sudah lelah dengan pekerjaannya, dan hal ini merupakan fenomena biasa. Tetapi tahukah kamu burnout tergolong sebagai fenomena yang masuk ke dalam Klasifikasi Penyakit Internasional [ICD-11] menurut WHO (2019). Burnout diartikan dalam ICD-11 adalah suatu sindrom yang terbentuk dari hasil stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil ditanggulangi.
Karakteristik dari burnout adalah:
- Perasaan lelah atau berkurangnya energi
- Meningkatnya jarak mental dengan pekerjaan, atau memiliki perasaan negatif akan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan
- Menurunnya efikasi profesional (kemampuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dalam dunia pekerjaan)
Tanda-Tanda Burnout
AMBISI YANG BERLEBIHAN
Diawal-awal fase burnout, orang-orang merasakan motivasi dan ambisi tinggi untuk mengerjakan semuanya dan menunjukkan kemampuan kita.
MENGHIRAUKAN KEBUTUHAN DIRI SENDIRI
Ambisi tersebut membuat kita mulai meninggalkan kebutuhan sehari-hari seperti melupakan makan, tidur terlalu malam atau terlalu sebentar dan bersosialisasi.
MENYALAHKAN ORANG LAIN ATAS PERBUATAN DIRI SENDIRI
Disaat kita mulai merasakan kewalahan dengan kerjaan, kita mulai menyalahkan orang-orang disekitar kita, seperti manager atau kolega, untuk mencari alasan atas kesulitan yang kita hadapi.
PERUBAHAN PERILAKU
Kita juga mulai mudah frustasi terhadap hal kecil, menjadi lebih agresif dan tidak ingin berbicara atau bersosialisasi dengan keluarga atau teman-teman.
KELELAHAN MENTAL DAN FISIK
Pada akhirnya, jika rasa burnout tidak diatasi, badan dan kesehatan kita bisa terpengaruhi dan dapat menyebabkan rasa cemas, menimbulkan depresi dan penyakit fisik lainnya.
Cara Mencegah Burnout
Dikarenakan transisi bekerja di kantor menuju bekerja di rumah, terkadang orang-orang masih belum terbiasa untuk membuat batasan-batasan yang dapat berdampak pada performa kerja dan juga kesejahteraan mereka. Jika tidak adanya batasan pada aktivitas bekerja selama work from home (WFH), sangat mungkin seorang individu akan mengalami gejala burnout.
Maka dari itu, berikut kami berikan beberapa rekomendasi untuk kamu dalam mencegah burnout selama WFH.
MENJAGA BATASAN FISIK DAN SOSIAL
Salah satu cara untuk menetapkan batasan aktivitas pekerjaan dan non-pekerjaan adalah dengan menggunakan baju kerja dan berjalan ke tempat bekerja. Melakukan aktivitas ini sebelum bekerja merupakan salah satu cara kamu dapat membuat batasan fisik dan sosial antara kamu yang sedang bekerja dan kamu yang sedang ada di rumah.
1. Berjalan ke tempat kerja
Bagaimana kita bisa WFH tetapi tetap berjalan menuju tempat kerja? Ketika bekerja secara offline, kita pasti menempuh perjalanan untuk mencapai kantor. Adanya rutinitas tersebut membuat kita terbiasa membedakan kapan kita bekerja dan kapan kita beristirahat. Saat WFH rutinitas ini tidak bisa dilakukan lagi, meski dengan bekerja di rumah dapat mempermudah akomodasi selama bekerja, pada titik tertentu dengan tidak adanya batasan tersebut akan sulit untuk mengetahui batasan kapan kita harus bekerja dan tidak. Untuk tetap melakakukan rutinitas ini yang biasanya identik dengan menggunakan transportasi umum ke kantor, kamu bisa menggantiannya dengan berjalan di dekat rumah untuk beberapa saat (yang pasti jangan lupa maskernya ya!) lalu kembali ke rumah dan mulai bekerja. Adanya rutinitas ini kamu dapat merasakan perbedaan waktu kamu bekerja dan beristirahat di rumah.
2. Menggunakan pakaian kerja
Saat awal berlakunya WFH, kebanyakan orang mungkin merasakan kelegaan karna waktu untuk bersiap-siap untuk bekerja berkurang. Sudah tidak lagi pusing-pusing memilih baju, atau pun berdandan. Tetapi sebenarnya dengan tidak adanya rutinitas mempersiapkan diri untuk bekerja ini dapat meniadakan batasan antara kita bekerja dan beristirahat di rumah. Maka untuk tetap mengkondisikan diri untuk bekerja kamu dapat mempersiapkan diri seperti ketika dahulu bekerja ke kantor dengan memakai pakaian kerja.
MENJAGA BATASAN WAKTU SEBISA MUNGKIN
Bekerja di rumah mungkin menjadi sebuah tantangan untuk orang-orang yang memiliki tanggung jawab sebagai pengasuh anak atau tanggung jawab keluarga lainnya. Sehingga akan sulit juga untuk mereka melakukan pekerjaan di jam kerja pada umumnya. Maka hal yang bisa dilakukan adalah membuat jadwal kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan individual dan juga kebutuhan organisasi.
Selain itu, kamu juga bisa membuat jawaban otomatis yang bisa digunakan untuk menjawab pesan-pesan pekerjaan ketika kamu sedang melakukan aktivitas non-pekerjaan atau sedang fokus pada kerjaan tertentu. Membuat batasan waktu ini penting juga untuk didiskusikan dengan rekan kerja lainnya, sehingga masing-masing pekerja dapat menghargai waktu satu sama lain dalam bekerja.
FOKUS PADA PEKERJAAN DARI YANG PALING PENTING
Kebanyakan pekerja selama WFH merasa harus menunjukkan produktivitasnya, tetapi hal ini dapat membuat mereka mengerjakan pekerjaan yang terlalu banyak di saat yang bersamaan. Pekerja yang merasa siap setiap saat untuk bekerja cenderung lebih rentan untuk mengalami burnout ketika WFH. Hal ini karena mereka cenderung menggunakan semua waktunya melakukan pekerjaan, sehingga waktu untuk beristirahat terlupakan. Situasi ini bukan menggambarkan produktivitas seseorang tetapi kebalikannya, kontraproduktif dan sangat berdampak pada kesejahteraan individu.
Untuk menghindari burnout, kamu perlu membuat skala prioritas pada pekerjaan. Sehingga kamu bisa mengalokasikan waktu untuk fokus pada satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Penting juga untuk kamu mengalokasikan waktu istirahat selama WFH. Menurut Giurge & Bhons (2021), hanya dengan meluangkan 10 menit untuk beristirahat dari pekerjaan dapat berdampak positif pada konsentrasi dan fokus individu.
SUMBER
- Giurge, L. M., & Bohns, V. K. (2020, April 3). 3 Tips to Avoid WFH Burnout. Harvard Business Review. https://hbr.org/2020/04/3-tips-to-avoid-wfh-burnout
- Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. (n.d.). Retrieved July 12, 2021, from https://www.who.int/news/item/28-05-2019-burn-out-an-occupational-phenomenon-international-classification-of-diseases
- Melinda. (n.d.). Burnout Prevention and Treatment—HelpGuide.org. Https://Www.Helpguide.Org. Retrieved July 12, 2021, from https://www.helpguide.org/articles/stress/burnout-prevention-and-recovery.htm
- How to Prevent Burnout in the Workplace: 20 Strategies. (2021, April 19). PositivePsychology.Com. https://positivepsychology.com/burnout-prevention/
