5 Serial TV yang Mengangkat Tema Kesehatan Mental

 

Ketika serial TV mencoba untuk menggambarkan penyakit mental sebagai cara untuk mengangkat tema pentingnya kesehatan mental, kita sering berakhir dengan pemahaman yang kurang tepat dan kerap mengarah terhadap stereotip yang cenderung menyinggung. Bahkan di saat-saat ketika penggambaran berhasil dilakukan dengan tepat, sering kali sentuhan realita tentang masalah kesehatan mental di alur cerita tidak dipadukan dengan alur ceritanya.

Kurangnya representasi yang akurat tersebut tidak hanya membuat frustrasi untuk masyarakat; informasi yang tidak akurat tentang penyakit mental di media dapat meningkatkan stigma, dan membuat orang yang berjuang dengan kesehatan mental merasa bingung dan terisolasi.

Berikut adalah 5 serial TV yang ubah stigma percaya telah mengangkat tema kesehatan mental secara otentik dan jujur:

1. BoJack Horseman – Gangguan Depresi

Sumber: The Verge

Sumber: The Verge

BoJack (disuarakan oleh Will Arnett) adalah seekor kuda alkoholik di usia 50-an yang membenci dirinya sendiri. Ia sempat terkenal di tahun 90-an, tetapi sejak itu ia telah berjuang untuk mencari jati dirinya melalui upaya-upaya yang tidak ada arah yang jelas. Walaupun alur cerita di tiga season awal menggambarkan BoJack mencoba untuk menulis riwayat hidupnya dan kembali aktif di karirnya yang telah lama hilang, fokus nyata acara ini sering kali adalah perilaku BoJack yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti dirinya sendiri; petualangan seksualnya yang eklektik, dan pencarian untuk menemukan sesuatu yang hilang yang bisa membuatnya merasa hidup.

BoJack Horseman tidak hanya unik dalam cara penggambaran perjuangan protagonisnya; serial TV ini juga berbeda karena, hampir semua orang di orbit Bojack melalui perjuangan yang sama. Melalui tokoh-tokoh yang lain, serial TV ini menunjukkan berbagai cara orang bereaksi terhadap depresi: menutup dan menghilang, beralih ke narkoba; atau sesederhana dengan cara memasang senyum palsu. Serial TV ini tidak hanya penting karena membuat orang merasa dilihat. Serial TV ini juga penting karena menunjukkan pengidap penyakit mental sebagai manusia (dan kuda, dan kucing, dan burung, dan anjing) yang kompleks dan relatable—dengan harapan untuk mengangkat tema kesehatan mental secara otentik.

Sumber: Tubefilter

Sumber: Tubefilter

2. Jessica Jones – PTSD (Gangguan Stress Pasca Trauma)

Sumber: Variety.com

Sumber: Variety.com

Para penonton Jessica Jones seringkali terpikat oleh sikap Jessica Jones yang beringas. Ia adalah seorang wanita mandiri yang digambarkan sebagai tokoh yang tidak mengikuti konvensi pola dasar karakter wanita di serial TV, yang seringkali di gambarkan sebagai wanita yang berjiwa feminin. Jessica (diperankan oleh Krysten Ritter) adalah seorang pecandu alkohol (pecinta whiskey) di pagi hari dan detektif handal dengan kekuatan super di malam hari; sambil mengenakan hoodie oversized dengan jeans dan make up yang minimal. Para penonton Jessica Jones juga seringkali lupa atau tidak sadar bahwa di balik persona Jessica yang tangguh, ia adalah seorang korban trauma dari masa lalunya.

Sumber: Digitalspy

Sumber: Digitalspy

Sebagai akibat trauma yang Jessica lalui, karakternya menderita PTSD karena trauma yang dia hadapi dari antagonis utama bernama Kilgrave (diperankan oleh: David Tennant). Sepanjang serial TV, para penonton dapat melihat kilas balik Jessica pada masa ia masih dalam perangkap Kilgrave, yang memiliki kekuatan mengontrol pikiran.  Dalam kilas balik, para penonton bisa menyaksikan saat ia memaksa Jessica ke dalam hubungan seksual yang bersifat non-konsensual, menghancurkan persahabatannya dan hubungan keluarga, dan, pada dasarnya, memotongnya dari dunia. Jessica juga sering digambarkan sering mimpi buruk, kecanduan alkohol (sebagai mekanisme koping), dan halusinasi akan kehadiran Kilgrave; semua adalah gejala umum bagi pengidap PTSD.

Banyak kritikus serial TV memuji pencipta dan penulis Jessica Jones atas keberanian mereka untuk mengangkat topik-topik tabu seperti gangguan PTSD, pemerkosaan, dan alkoholisme secara otentik. Di dalam proses itu, para penulis juga dapat menggambarkan tokoh-tokoh dan alur cerita Jessica Jones sebagai contoh yang dapat memberdayakan penonton yang melalui pengalaman yang sama. Serial TV ini juga melakukan pekerjaan yang hebat dalam menunjukkan realitas PTSD lain yang tidak menyenangkan: Bagi banyak orang, penyembuhan adalah proses yang panjang dan sulit—dengan harapan untuk mengangkat tema kesehatan mental secara otentik.

3.  It’s Okay, That’s Love – Skizofrenia, Obsessive Compulsive Disorder (OCD), Tourette Syndrome

Sumber: Jediprincess

Sumber: Jediprincess

Untuk yang sering menonton k-drama, pasti pernah menonton atau mungkin dengar tentang “It’s Okay, That’s Love”. Serial TV ini menceritakan tentang perjalanan percintaan seorang psikiater bernama Ji Hae Soo dan novelis sekaligus radio dj yang terkenal bernama Jang Jae Yeol. “It's Okay, It's Love" mengumpulkan banyak popularitas karena ceritanya yang mengitari penyakit mental seperti Skizofrenia, Obsessive Compulsive DIsorder (OCD), dan Tourette Syndrome di antara yang lain. Drama ini menerima banyak pujian karena menggambarkan penyakit mental dalam perspektif yang jujur tetapi indah, terutama karena topik itu sendiri sangat sensitif dan sulit untuk dimengerti untuk masyarakat Korea yang kerap mengganggap topik kesehatan mental itu tabu.

Banyak perhatian terutama ditempatkan pada skizofrenia, yang terjadi pada tokoh utama pria, Jang Jae Yeol (diperankan oleh Jo In Sung). Meskipun dia telah didiagnosis dengan gangguan mental ini, dia mampu mengatasinya melalui bantuan rekan-rekannya, terutama sang protagonis wanita Ji Hae Soo (diperankan oleh Gong Hyo Jin) dan perawatan aktif. Tokoh utama Jang Jae Yeol mampu membentuk pandangan publik terhadap pasien skizofrenia menjadi satu yang lebih positif dan berempati. Lebih dari itu, alur ceritanya yang ringan dan penuh dengan segala nada dan suasana dari: humoris, serius, kekeluargaan, dan pertemanan; dapat mempertegas sisi normatif dari kehidupan tokoh-tokoh yang menjalani hidup dengan perjuangan penyakit mental.

Sumber: Jediprincess

Sumber: Jediprincess

Sang protagonis wanita, Ji Hae Soo, juga adalah seorang psikiater yang tinggal bersama kawan-kawan lainnya yang mengidap gangguan OCD dan Tourette Syndrome. Kehidupan pertemanan sehari-hari mereka yang tidak gampang di gambarkan secara nyata, di tambah dengan perjalanan percintaan Ji Hae Soo dan Jang Jae Yeol. Sisi kekeluargaan dari alur cerita keluarga Jang Jae Yeol juga dikuak oleh para penulis dan dapat memperjelas akibat di balik gangguan mental yang Jang Jae Yeol hadapi. Tidaklah mengherankan bahwa k-drama ini telah mengumpulkan banyak pujian dari masyarakat dan bahkan dari para ahli dari Korean Society for Schizophrenia Research, atas penggambaran yang otentik tentang perjuangan untuk kesehatan mental.

4.     Mr. Robot – DID (Gangguan Identitas Disosiatif), Depresi

Sumber: arstechnica

Sumber: arstechnica

Mr. Robot, sebuah serial televisi drama Amerika karya Sam Esmail mengisahkan Elliott Anderson (diperankan oleh Rami Malek) yang merupakan seorang cybersecurity engineer di Allsafe Cybersecurity dan hacker di fsociety, sebuah perusahaan yang mempekerjakan black hackers dibawah pimpinan Mr. Robot. Bersama Mr. Robot, Elliott turut serta membantu menghancurkan sebuah perusahaan konglomerat, E.Corp, yang merupakan klien terbesar Allsafe dan juga pihak yang bertanggung jawab atas kematian Ayah Elliott. Tidak sampai disitu, serial Mr. Robot dikemas dengan membawa penontonnya kedalam isu-isu internal yang dialami Elliott, yaitu gangguan dengan kesehatan mentalnya.

Elliott menderita Dissociative Identity Disorder (DID) atau Gangguan Identitas Disosiatif. Namun, gangguan tersebut juga dihadirkan bersamaan dengan aspek kesehatan mental lainnya, seperti social anxiety, depresi, kecanduan narkotika, insomnia, hingga autisme. Sam mengaku telah berkonsultasi dengan psikolog agar dapat menggambarkan DID secara akurat didalam karakter Elliott. Ia juga menggunakan pengalaman pribadinya dengan kecemasan dan kecanduan.

Sumber: MashableAsia

Sumber: MashableAsia

Pemahaman akan kondisi yang dialami Elliott dihadirkan dengan kesalahpahaman dirinya akan isu psikologisnya. Esmail membiarkan penonton untuk menganggap Elliott mengalami Skizofrenia, begitu pula dengan karakternya sendiri. Hal tersebut membuat serial TV yang satu ini mencerminkan aspek realita, dimana kesehatan mental kerap kali disalah artikan, karena memang kesadaran lingkungan dan pemahaman masyarakatnya yang minim.

Banyak pun kritik terhadap isu DID yang diangkat ke layar kaca, dianggap sebagai alegori untuk keadaan yang normal, melebihi kenyataannya. Disisi lain, Mr. Robot dianggap sebagai salah satu serial tv yang mengangkat isu mental dan menyampaikannya melalui sudut pandang tokohnya, seperti Elliott yang sempat mengira dirinya mengidap Skizofrenia. Melalui karyanya inilah, Sam mampu menghadirkan sebuah drama serial tv yang menetapkan standar baru dalam gambaran penyakit mental dan memperbaiki kesalahpahaman yang kerap terjadi mengenai pemahaman kesehatan mental yang dihadirkan melalui media.

5.     This is Us – Kecemasan (Anxiety), Gangguan Kecanduan

Sumber: alexandriaphotographyva

Sumber: alexandriaphotographyva

Serial TV yang menceritakan kisah keluarga Pearson ini telah berhasil membuat penontonnya terus menitihkan air mata selama menontonnya. This is Us  hadir ke layar kaca pada tahun 2016, menampilkan Milo Ventimiglia (sebagai Jack Pearson), Mandy Moore (sebagai Rebecca Pearson), Sterling K. Brown (Randall Pearson), Chrissy Metz (Kate Pearson), Justin Hartley (Kevin Pearson), dan masih banyak lagi. Serial yang bercerita tentang keluarga Pearson yang dikemas secara unik, Kate dan Kevin adalah saudara kembar yang bertahan dari kehamilan kembar tiga ibu mereka, Rebecca. Jack dan Rebecca percaya bahwa mereka ditakdirkan untuk dikaruniai 3 orang anak. Di waktu yang bersamaan hadirlah Randall, seorang anak yang lahir di hari yang sama, namun dirinya ditinggal oleh sang ayah di sebuah stasiun pemadam kebakaran. Jack dan Rebecca kemudian mengadopsi Randall, dan mereka bertiga disebut sebagai The Big Three atau “Tiga Besar”.

Cerita keluarga Pearson menampilkan sisi kemanusiaan yang lain, sisi kehidupan yang bisa dibilang berantakan dan tidak tersusun. Melalui dua season pertama, kehidupan karakter-karakternya diceritakan secara individu, namun kemudian setelah penontonnya mengenal para tokoh lebih lanjut, kita dapat menyadari bahwa mereka memiliki pengaruh yang mendalam terhadap satu sama lain. Aspek kesedihan, kecanduan, trauma, dan berbagai mekanisme untuk koping dihadirkan dalam cerita. Di awal seri, kita dapat melihat perjuangan Kate menghadapi dirinya yang bermasalah dengan berat badan dan makanan. Kemudian, Jack dan Kevin yang memiliki kecanduan semasa hidupnya. Randall dengan panic attacks dan caranya untuk koping menghadapi kecemasan yang dialaminya.

Sumber: nytimes

Sumber: nytimes

Serial ini memasukkan aspek kesehatan mental kedalam setiap karakternya, membuat ceritanya menjadi sangat emosional, namun membuka pandangan kita bahwa setiap orang memiliki pertarungan yang harus dihadapi, entah itu dengan keluarga, masa lalu, atau pun dirinya sendiri. Hal ini membuat sisi kebahagiaan yang dihadirkan untuk penontonnya sangat menyentuh. Walaupun ada beberapa kritik mengenai penggambaran penyakit mental yang kurang akurat. This Is Us telah berhasil mengambil hati para penontonnya untuk bercermin dan mengajarkan penontonnya untuk memiliki kesadaran yang lebih dalam memandang orang lain, dan dengan pengetahuan, kasih sayang, dan dengan menghargai orang lain, kita dapat membentuk lingkungan dimana semua orang dapat dimengerti dan dicintai.

Itu adalah 5 serial TV yang menurut Ubah Stigma telah mengangkat tema kesehatan mental secara otentik melalui alur cerita dan tokoh serial TV masing-masing. Apakah kita lupa serial TV yang menurut kalian juga mengangkat tema kesehatan mental?

Komentar di bawah atau komentar di posting instagram kami, serial TV menurut kesukaan kalian yang juga mengangkat tema kesehatan mental!

 

Written by: Esta Wantah & Shavira Putri Hidayanti