Berawal Dari Hubungan Yang Terputus, Berakhir Dengan Mengubah Stigma di Masyarakat

Emily Jasmine (Kiri) dan Asaelia Aleeza (Kanan), Co-founders Ubah Stigma

Emily Jasmine (Kiri) dan Asaelia Aleeza (Kanan), Co-founders Ubah Stigma

Kisah dibalik didirikannya organisasi Ubah Stigma berawal dari persahabatan kedua co-foundersnya, Asaelia Aleeza dan Emily Jasmine. Mereka dipertemukan saat duduk dibangku SMA, dan harus terpisah karena Asael menyelesaikan studinya di sekolah lain. Asael dan Emily juga menempuh pendidikan perguruan tinggi dengan jurusan yang sama, yaitu psikologi, namun di lokasi yang sangat berjauhan, Asael berkuliah di Inggris, sedangkan Emily berkuliah di Kanada. Keduanya dipertemukan kembali di Jakarta, saat libur akhir tahun pertama kuliah. Disitulah, hubungan yang sempat terputus itu kembali tersambung dan pertemuan pertama setelah bertahun-tahun dilanjutkan dengan percakapan melalui Skype yang cukup sering setelah keduanya kembali berkuliah.

Pada awalnya, video call melalui Skype dilakukan untuk belajar bersama. Namun, pada suatu hari, percakapan mereka mengarah pada satu pertanyaan, “layanan apa saja yang ditawarkan untuk orang-orang dengan gangguan mental di Indonesia?”. Diskusi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa di Indonesia, layanan untuk orang yang menderita gangguan mental masih sangat minim, sedangkan di Inggris dan Kanada, mereka sudah menyediakan suicide hotline atau night hotline agar dapat membantu orang-orang yang memiliki kondisi mental yang tidak sehat. Percakapan tersebut pun mengarah ke pertanyaan lain seperti, “mengapa layanan tersebut sangat minim di Indonesia?”. Menurut mereka, hal ini dikarenakan permintaan dari masyarakatnya yang tidak dapat terlihat akibat stigma yang ada di masyarakat, dimana penderita gangguan mental kerap kali dianggap “gila”, alhasil membuat kesehatan mental tersebut tidak dianggap penting. Orang-orang juga perlu memahami bahwa lingkungan, serta orang terdekat seperti, teman dan keluarga, sangat memengaruhi proses pemulihan jiwa penderitanya.

Dengan kondisi masyarakat yang masih menganggap kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu, penderitanya tidak dapat menemukan perawatan yang tepat. Terlebih lagi, kesehatan mental juga perlu dijaga. Masalah utamanya juga terletak di lingkungan masyarakat yang sebagian besar tidak mengerti, dan rawan menderita gangguan mental, seperti kecemasan, depresi, terutama pada generasi milenial yang mudah sekali merasa tertekan karena kompetisi dalam lingkungan sosial mereka yang terus meningkat, contohnya kehidupan di media sosial mereka.

Melalui pengamatan tersebut, mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah organisasi, yang diberi nama ‘Ubah Stigma’. Lembaga ini diperuntukan untuk mencapai tujuan mulia mereka dan diharapkan agar nantinya, organisasi ini dapat membuat Indonesia menjadi ramah disabilitas mental melalui acara-acara yang akan diselenggarakan.

Mereka tidak sendiri, ternyata banyak dari teman-teman mereka yang ingin ikut serta untuk membuat perubahan tersebut di Indonesia. Lima belas anggota Ubah Stigma lainnya tidak berasal dari latar belakang psikologi, mereka adalah mahasiswa/i Indonesia yang juga menempuh perguruan tinggi di luar negeri seperti, Amerika Serikat, Inggris, dan juga Indonesia, dari berbagai jurusan seperti, Bisnis, Matematika, Komunikasi, Akutansi, dan lainnya. Dengan terbentuknya kepengurusan Ubah Stigma, program-program yang dibuat akan selalu berkaitan dengan visi dan misi Ubah Stigma, agar tujuan utamanya bisa tercapai.

Shavira Hidayanti