Menghilangkan Stres Melalui Terapi Kognitif dan Perilaku bersama PDC Care

Cognitive Behavioural Therapy atau Terapi Kognitif dan Perilaku (CBT) adalah salah satu bentuk psikoterapi yang sifatnya fokus pada bagaimana pola pikir manusia bisa mempengaruhi emosi dan perilaku. Secara umum, ketika klien belajar untuk mempertimbangkan atau mengevaluasi pikirannya, mereka akan mengalami peningkatan pada kondisi emosional, sehingga dapat memudahkannya mengambil keputusan yang tepat. Pada akhirnya ini akan membantu klien menjadi berfungsi lebih baik dan produktif dalam linkungannya.

Kita sudah banyak mengetahui apa itu stress dan berbagai jenisnya. Tapi tahukah kamu kalau stress itu disebabkan pikiran kita sendiri? Coba ingat ketika kamu mengalami stress dalam mengejar target pekerjaan atau tugas kuliah, lihatlah teman sekelilingmu yang juga mengalami peristiwa yang sama, apa semuanya terlihat mengalami stress juga? Apa ada yang terlihat santai dan terkesan tanpa beban? Pastinya kamu akan melihat reaksi yang beragam dari sekelilingmu.

Men are disturbed not by things, but by the views which they take of things.
— Epictetus

Yang membuat reaksi kita berbeda dalam menghadapi stress adalah perspektif atau pemaknaan kita sendiri pada situasi tersebut. Salah satu filsuf Yunani bernama Epictetus mencetuskan bahwa kita terganggu bukan karena situasi, melainkan perspektif yang kita ambil dalam situasi tersebut. Salah satu pioner dari terapi kognitif yaitu Albert Ellis menambahkan bahwa yang membuat individu terganggu adalah pikiran yang irasional, dimana cenderung sifatnya kaku, tidak konsisten dengan realitas yang ada, tidak masuk diakal, dan cenderung merugikan dan mempersulit individu mengejar tujuan hidupnya.

Lebih lanjut, ketika kamu merasa stress dalam kehidupan coba lakukan beberapa tips yang tertera dibawah ini :

1. Identifikasi perspektif apa yang kita ambil pada situasi tersebut atau apa yang kita maknai dalam situasi itu. Latihlah melihat perspektif atau pemaknaan pada situasi yang spesifik. Hal tersebut perlu dilakukan karena kita cenderung mengeneralisir suatu peristiwa dan akan lebih mudah untuk latihan identifikasi ketika situasinya spesifi.

2. Telaah bukti yang mendukung dan bukti yang tidak mendukung perspektif kita. Bisa jadi pikiran kita cenderung irasional. Misalnya : pacar kamu tidak memberikan kabar selama beberapa waktu/jam sehingga membuat kita merasa kesal dan khawatir, kamu mengambil perspektif atau memaknai peristiwa itu dengan "Pasti saya dia selingkuh".

a) Bukti yang mendukung : "dia tidak memberikan kabar".

b) Bukti yang tidak mendukung : "1 tahun pacaran tidak pernah selingkuh", "setiap malam minggu selalu ada acara ngedate", "sudah dikenalkan dengan orang tuanya".

3. Mempertimbangkan respon perilaku kita. Pantaskah respon kamu? perlukah kamu melakukan respon itu sekarang? Bagaimana orang lain berespon dengan perilaku kamu ?

Sumber: Ubah Stigma

Sumber: Ubah Stigma

Tips tersebut mungkin terlihat sederhana tetapi tidak mudah untuk menerapkannya. Butuh waktu untuk kamu dapat mengidentifikasi pikiran dan menelaah bukti yang ada serta mempertimbangkan respon kamu terhadap bukti tersebut. Silangkan dicoba teman-teman dan jika kamu mengalami kesulitan, jangan ragu mencari bantuan profesional, Personality Development Center dapat membantu individu yang mengalami kesulitan secara psikologis. Mulai dari mengelola stres sampai pada gangguan psikologis berat seperti adiksi, skizofrenia dan gangguan kepribadian. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan akses website di www.pdccare.com atau kunjungi sosial media di Instagram @pdc.care dan Facebook page @pdc.care.jakarta