Tamparan Realita dari Rumah Rahasia Perempuan

 
Sumber: Teater Pandora —  Orang-orang dibalik kesuksesan Rumah Rahasia Perempuan

Sumber: Teater Pandora — Orang-orang dibalik kesuksesan Rumah Rahasia Perempuan

Untuk pertama kalinya, Ubah Stigma diundang untuk menghadiri sebuah pementasan teater bertajuk “Rumah Rahasia Perempuan” produksi Teater Pandora. Pementasan yang diadaptasi dari naskah peraih The Pulitzer Prize tahun 2008, August: Osage County karya Tracy Letts ini mengangkat aspek disfungsi dalam keluarga akibat hilangnya sosok ayah.

Teater Pandora berhasil memukau penonton dengan totalitas penampilan para pemainnya. Pementasan disajikan dengan sangat ringan dan tema yang bisa dibilang sangat relevan. Pementasan ini memberikan sebuah tamparan realita kepada para penontonnya bahwa banyak orang yang memiliki berbagai masalah memutuskan untuk diam, sementara mereka yang menghadapinya tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan masalah tersebut memisahkan mereka dan membuat hubungan mereka terputus. Melalui karyanya, Yoga Mohamad menggambarkan situasi dimana kurangnya komunikasi dalam keluarga merupakan akar dari seluruh permasalahan tersebut dan menguak realita kondisi mental setiap anggotanya yang terpengaruh, seperti depresi, kecemasan, dan kesendirian.

Rumah Rahasia Perempuan berkisah tentang kehidupan lima orang perempuan dari 3 generasi dengan segala permasalahannya: Martha (Maharani Megananda & Anggita Putri), sang ibu yang berusia 58 tahun memiliki masalah gangguan kejiwaan dan kecanduan terhadap obat-obatan; Diana (Nabila Putri Utami), Lisa (Margareta Marisa), dan Mia (Cindy Nirmala), adalah anak-anak Martha yang dihadapkan oleh berbagai masalah keluarga, asmara, dan karir mereka masing-masing; Arlen (Dea Puspitasari), merupakan anak dari Diana yang mewakili generasi Millennial dengan permasalahannya terhadap pencarian jati diri dan pemberontakan. Permasalahan yang mereka miliki juga tidak luput dari sosok sang ayah, Martin (Bagus Ade Saputra & Dionisius Agnuza), yang juga merupakan seorang pecandu alkohol yang meninggalkan keluarganya dengan bunuh diri. Ada pula Susan (Abigail Maramis), kakak Martha, dan suaminya, Teddy (Ravi Septian), yang datang berkunjung untuk menemani Martha selagi menunggu kedatangan anak-anaknya.

Aku berserah diri kepada Tuhan, meskipun ini keputusan yang bukan membuat nyaman diriku.. atau istriku.
— Martin

Jika dilihat dari aspek psikologis, Charles Whitfield dalam Healing the Child Within: Discovery and Recovery for Adult Children of Dysfunctional Families (1987), menulis khususnya tentang pelecehan emosional dan spiritual dalam disfungsi keluarga yang menyebabkan situasi dimana peran dalam keluarga yang sudah tercampur aduk, secara tidak sehat. Whitfield mengacu pada peranan anak yang berubah menjadi Surrogate Spouse (pasangan pengganti) atau caregiver bagi orangtuanya. Dalam Rumah Rahasia Perempuan, Diana, Lisa, dan Mia adalah pengganti Martin bagi Martha. Keluarga ini dipersatukan kembali setelah Martin menghilang dan ditemukan meninggal dunia. Pertemuan inilah yang kemudian mengungkap berbagai rahasia yang selama ini tidak pernah dibahas oleh satu sama lain. Diana dengan mulutnya yang tajam, selalu memicu pertengkaran antara dirinya dan lawan bicaranya, disertai dengan masalah perpisahan dengan sang suami yang membebaninya. Mia dengan tunangan barunya, Reno, datang dengan ratusan cerita tentang kehidupannya yang “sempurna” di ibukota. Sementara itu, Lisa, yang selalu bungkam soal kehidupannya, berperan sebagai surrogate spouse yang paling baik untuk orangtuanya, menjalin kasih untuk pertama kali — dengan sepupunya sendiri, Robby.

Perkembangan karakter Lisa merupakan bagian paling menarik dalam keseluruhan pentas. Lisa hadir dengan watak introvert, namun dia lah yang memiliki rahasia paling besar diantara saudara-saudaranya. Terlihat selama cerita berjalan, Lisa lebih memilih untuk diam dan akhirnya membiarkan dirinya kelelahan secara mental (mental exhaustion). Situasi mental yang dialami seseorang akibat stres yang terakumulasi karena terlalu banyak tanggung jawab, terlalu banyak hal yang terjadi dalam kehidupannya. Kemudian ia mencapai titik yang pada akhirnya emosi itu meledak karena pikiran dan tubuhnya sudah tidak sanggup untuk mengatasinya lagi. Lisa lah yang ada di rumah itu selama Diana dan Mia tak ada. Itulah representasi seseorang yang memutuskan untuk tidak mengutarakan isi hatinya, membiarkan dirinya terlarut dalam masalah tanpa orang lain mengetahuinya.

Sumber: Teater Pandora —  Potret Lisa diperankan oleh Margareta Marisa

Sumber: Teater Pandora — Potret Lisa diperankan oleh Margareta Marisa

Rumah itu adalah tempat dimana semua rahasia terungkap, rumah itu pula merupakan tempat dimana Martha dapat mengunci dirinya dari dunia luar. Terlihat dari kesan pertama setiap orang yang mendatangi rumah itu, semua mengeluh karena suhu rumah yang panas dan gelap. Ini adalah bentuk kontrol yang ketat atas beberapa hal dalam kehidupan yang mampu dikuasainya, seperti halnya penggunaan obat-obatan tersebut. Hubungan Martha yang penuh dengan putri-putrinya adalah indikator paling jelas dari disorganisasi kepribadiannya. Sebisa mungkin Martha menjauhkan diri dari mereka — mengkritik Lisa yang tak suka berias dan masih lajang, mengkritik Diana yang jarang berkunjung, hingga membawa sosok Martin kembali hanya untuk mengutarakan betapa kecewa dirinya terhadap anak sulung kesayangannya itu. Efek setelah trauma masa kecil tidak pernah terbatas pada pikiran korban saja. Orang-orang seperti Diana terus disiksa tidak hanya oleh masa kanak-kanak mereka sendiri, tetapi oleh konsekuensi abadi dari penyalahgunaan masa kecil orang tua mereka sendiri. Trauma anak dan gangguan pelekatan yang dihasilkan adalah produk ketidakkonsistenan. John Bowlby, seorang psikoanalis dan pencipta Teori Attachment, menetapkan bahwa ada ikatan naluriah dan fundamental antara anak-anak dan pengasuh mereka. Dia menulis tentang perlunya seorang anak memiliki "basis aman" dan menunjukkan hasil yang mengerikan bagi mereka yang tidak memiliki basis seperti itu. Anak-anak yang tidak diberi pangkalan yang aman sering tumbuh tidak dapat melampirkan atau mempercayai orang lain; hubungan mereka sebagian besar renggang dan bergantung.

Kita hanya orang-orang biasa yang terikat hubungan genetik secara acak.
— Lisa

Trauma adalah rangkaian kesedihan yang beriak dari generasi ke generasi dalam keluarga itu. Sama halnya seperti Martha, karakter-karakter lain juga terganggu, marah, dan secara agresif mengobati diri mereka sendiri. Martha dan obat-obatannya, Martin dan alkoholnya, Teddy dengan birnya, Susan dan rokoknya, yang kemudian, perpecahan psikologis ini menunjukkan sisi korban child abuse pada diri mereka (Susan dan Martha), dan konsekuensi bagi anak-anak mereka yang memiliki kondisi serupa. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang terlepas dari keluarga, kedatangan Susan dan Teddy, serta unsur komedi yang mereka bawa sempat menipu penonton dengan memberi kesan bahwa keluarga ini adalah keluarga yang harmonis namun baru saja kehilangan sang Ayah, padahal kenyataannya tidak.

Matilah setelah Mama. Hanya itu.
— Diana

Hubungan ketiga putri Martin dan Martha sudah renggang, mungkin juga terlepas, tetapi terlihat ada suatu hubungan yang kuat antara Martha dan Diana. Meskipun Diana hadir dengan sosok yang dingin, kerap memancing keributan, namun justru Diana menampilkan kebaktiannya sebagai anak sebagai upaya untuk meredakan Martha. Seperti percakapan di meja makan saat Martha mulai menyerang semua orang dan Diana berusaha untuk meredamnya. Diana melakukan semua yang seharusnya dilakukan putri yang baik, tapi hal ini dilakukannya hanya untuk melarikan diri dari sang ibu pada akhirnya. Melarikan diri bukanlah hal yang mudah untuk Diana, tidak semudah Mia yang memutuskan pergi setelah Diana menuduh Reno melakukan pelecehan terhadap Arlen. Hal ini dikarenakan Diana yang terjerat oleh krisis yang dialami Martha. Martha bisa seenaknya membawa mendiang Martin kedalam percakapan hanya untuk menyerang Diana.

Joan Woodward, dalam Attachment and Human Survival (2004), menguraikan berbagai reaksi dalam keluarga tersebut. “Beberapa anak, sebagai alternatif, akan membuat upaya putus asa untuk menenangkan orang tua mereka,” tulisnya. “Orang lain mungkin sangat agresif; Setelah merasa diri mereka tidak diurus karena mereka akan, pada gilirannya, tidak peduli siapa pun. Yang lain mungkin jatuh kembali kepada kepercayaan bahwa jika mereka 'tidak berdaya' atau 'tidak cukup', mungkin mereka akan mendapatkan perawatan yang mereka rindukan.” Hal itu yang tergambar melalui ketiga anak Martha dalam upaya mereka untuk menenangkan sang ibu yang kehilangan pasangannya. Namun pada akhirnya justru memecahbelah keluarga itu.

Sumber: Teater Pandora —  Potret putri-putri Martha dan Martin; Kiri: Diana (Nabila Putri Utami), Tengah: Lisa (Margareta Marisa), Kanan: Mia (Cindy Nirmala)

Sumber: Teater Pandora — Potret putri-putri Martha dan Martin; Kiri: Diana (Nabila Putri Utami), Tengah: Lisa (Margareta Marisa), Kanan: Mia (Cindy Nirmala)

Perdebatan demi perdebatan terjadi antar tokoh dan dengan mudah keluarga itu terpecah, meninggalkan Martha dengan Anna, seorang pembantu rumah tangga yang mengetahui seluruh rahasia di rumah itu.

Sumber: Teater Pandora —  Potret Martha masa kini diperankan oleh Maharani Megananda

Sumber: Teater Pandora — Potret Martha masa kini diperankan oleh Maharani Megananda

Rumah Rahasia Perempuan menyuguhkan kisah disfungsi keluarga dengan mengangkat isu yang begitu dekat dengan kita, namun kerap diabaikan. Keluarga bukan lagi tempat yang aman dan nyaman, bukan lagi tempat dimana kita bisa berteduh dan menyelesaikan masalah. Pementasan ini menyadarkan kita bahwa keluarga hanyalah gudang rahasia setiap anggotanya. Rumah itu hanya saksi bisu segala perdebatan, luapan emosi dan amarah, tidak ada jalan keluar karena sebagian besar memutuskan untuk diam dan membiarkan semuanya hancur begitu saja — lalu satu persatu memutuskan untuk pergi, dan tersesat lebih jauh lagi. Teater Pandora mengakhiri Rumah Rahasia Perempuan dengan mengajak penontonnya untuk berpikir dan melihat kembali apa makna keluarga dalam hidup kita, dan bagaimana kesehatan mental itu sangat penting.

See, I think there are roads that lead us to each other. But in my family, there were no roads - just underground tunnels. I think we all got lost in those underground tunnels. No, not lost. We just lived there.
— Benjamin Alire Sáenz
 

Written by: Shavira Putri Hidayanti

Shavira HidayantiComment